Perbanyak Sholawat di hari Jumat

Sahabat, mari kita perbanyak amalan sholawat di hari jumat ini, agar senantiasa mendapatkan rahmat dari Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

“Sesungguhnya diantara hari-hari kalian yang paling mulia adalah hari Jumat. Karena itu, perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu karena shalawat kalian akan ditampakkan kepadaku.” (HR. Abu Dawud)
ㅤㅤ
Semoga kita dimudahkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala, untuk senantiasa mengamalkannya.

-admin-

Share this:

Penyebab Stres

Sahabat yang baik, salah satu penyebab dari datangnya stres itu karena kebanyakan mikir dan sangat kurang dzikir.

Hidup akan terasa sangat berat manakala kita tidak mendapat pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Salah satu gerbang pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala yang memiliki derajat sangat tinggi adalah dzikrulloh.

Semakin banyak kita mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, semakin dimudahkan segala urusan kita dan hatinya menjadi tentram.

-admin-

Share this:

Bahagia Itu Dekat Dengan Alloh

Hidup di dunia ini pasti banyak masalah. Masalah itu adalah bagian dari karunia Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, bukan bagian dari musibah. Masalah menjadi musibah jika kita salah menyikapinya.

Seperti ujian di sekolah, ujian tersebut adalah karunia, karena ujian menjadi kesempatan untuk bisa naik kelas. Justru murid yang tidak ujian bisa dianggap tidak sekolah. Dan, seseorang yang tidak lulus itu bukan disebabkan soal-soal dalam ujiannya, akan tetapi disebabkan dia salah menjawab soal-soalnya, dia salah menyikapi persoalannya.

Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan kita kekuatan sehingga kita bisa bersungguh-sungguh dalam menghadapi setiap masalah hidup. Dan, semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan pertolongan kepada kita karena bahagia yang sesungguhnya adalah bukan pada saat kita bebas dari masalah, tapi jadi dekat dengan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala walau banyak masalah.

-admin-

Share this:

Lakukan Kebaikan dan Lupakan

 

Sahabat yang baik, mari kita belajar berusaha keras untuk beramal. Tapi kalau sudah beramal, maka lupakan saja.

Karena Alloh Subhanahu Wa Ta’ala yang membuat amalnya dan kita hanya menjadi jalannya, kita jadi jalannya saja sudah cukup dan luar biasa. Jika kita merasa bahwa ini amal saya, maka akan hilang pahalanya, dan jika kita merasa itu hidayah dan taufik Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, maka akan mendapatkan pahalanya.

Semoga kita menjadi orang yang tidak senang menyombongkan dan membanggakan diri dan selalu mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dalam segala keadaan. Aamiinn yaa Robbal’aalamiin.

Share this:

Cahaya Hati Indonesia

Sahabat, mari saksikan siaran tapping Kajian Tauhiid di Masjid Istiqlal yang akan disiarkan di iNews, Ahad 23 September 2018 pukul 12.30 WIB dengan tema “Indahnya Saling Menasihati”. Niatkan mencari ilmu, semoga menambah keberkahan bagi kita semua. Aamiin…

Share this:
Helping Hand

Pahala Bagi yang Berbuat Baik

Alloh SWT. berfirman, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus [10] : 26)

Dalam ayat yang lain Alloh SWT. berfirman, “..Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Alloh SWT. menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah [2] : 195)

Dalam dua ayat ini Alloh SWT. memberikan petunjuk kepada kita bahwa Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang berbuat baik. Nah, berbuat baik seperti apa? Yaitu perbuatan baik yang diniatkan lillaahita’ala. Kebaikan yang dilakukan dengan mengejar ridho Alloh SWT. Kebaikan yang dilakukan dengan maksud supaya semakin dekat dengan Alloh SWT. Inilah puncak kebaikan.

Karena ada juga orang yang berbuat baik supaya dianggap baik oleh orang lain. Ada yang berbuat baik supaya orang lain berhutang budi. Begitu banyak orang yang berbuat baik bukan dengan kebaikan yang asli, karena kebaikan yang asli murni hanya satu yaitu kebaikan yang tulus tanpa pamrih kecuali hanya mengharap perhatian dari Alloh SWT. Tetaplah berbuat baik meskipun orang lain tidak peduli pada kebaikan kita. Karena Alloh SWT. senantiasa peduli pada sekecil apapun kebaikan yang dilakukan oleh hamba yang beriman kepada-Nya.

Share this:

Maksiat, Ibarat Menanam Paku di Jalan Sendiri

Saudaraku, sesungguhnya tiap satu kali kita melakukan maksiat, maka ketika itu juga kita sedang menanam paku, duri, pecahan kaca, bayonet atau bambu runcing, persis di jalanan yang akan kita lalui. Dan, kita pasti akan menginjaknya, tidak akan meleset. Jadi, semakin kita banyak maksiat, semakin banyak kita menebar ranjau berbahaya yang pasti akan mencelakai diri kita sendiri. Na’udzubillahi mindzalik!

Oleh karenanya, jangan menyalahkan orang lain ketika kita merasakan penderitaan. Penderitaan tersebut datang pasti karena diundang oleh kezholiman diri kita sendiri. Masalahnya kita suka lupa akan hal ini. Setiap kali merasakan penderitaan, kita sibuk mencari kambing hitam, sibuk menyalahkan orang lain dan berat mengakui kesalahan diri sendiri. Padahal dalam ayat di atas jelas-jelas Alloh SWT. mengingatkan jika keburukan yang kita lakukan akan kembali pada kita.

Artinya, langkah terbaik ketika kita merasa menderita adalah segera introspeksi diri dan bertaubat, jangan pernah merasa suci dari dosa karena manusia memang tempatnya salah dan khilaf. Boleh jadi ada dosa yang lupa kita taubati, atau boleh jadi ada orang lain yang terzholimi oleh kita tanpa kita sadari.

Kemudian, iringi setiap taubat kita dengan berbaik sangka kepada Alloh SWT., bahwa setiap kemalangan yang menimpa kita itu tiada lain adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada kita. Agar kita senantiasa ingat kepada-Nya, memohon perlindungan-Nya dan memperbaiki kualitas diri kita.

Saudaraku, ketika kita melakukan maksiat, tak ada satupun yang meleset untuk dicatat oleh malaikat. Setiap bagiannya akan diperhitungkan dan akan diberikan balasannya kepada kita. Berbuat maksiat itu seperti air minum, semakin diminum semakin haus, karena hukuman dari dosa itu adalah mudahnya berbuat maksiat yang lain. Oleh karenanya, marilah kita giatkan diri bertaubat dengan sungguh-sungguh. Semoga Alloh Swt. senantiasa membimbing kita dan memberikan kita kekuatan untuk istiqomah dalam ketaatan kepada-Nya.

Share this:

Bekerja Tuntas

Alloh Swt. berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Al Insyiroh [94] : 7)

Sahabat yang baik, janganlah kita seperti orang yang tidak jelas dalam mengerjakan sesuatu. Tidak sedikit orang, bahkan mungkin termasuk kita di antaranya, yang jika melakukan suatu pekerjaan, tidak fokus sehingga tidak selesai dengan baik.

Target tidak tercapai, rencana meleset jauh, gara-gara tidak fokus dan banyak keinginan setiap kali menemukan sesuatu hal yang lebih menarik hati. Akhirnya, pekerjaan tidak ada yang tuntas. Alih-alih menuruti kesenangan hati, yang terjadi malah pekerjaan menjadi berantakan.

Maka, beruntunglah orang yang senantiasa melatih dirinya untuk melakukan pekerjaan secara tuntas dan bekerja dengan penuh dedikasi dalam setiap tugasnya.

Share this:

Hal yang Membahayakan bagi Kita

Tidak ada yang membahayakan diri kita selain dari keburukan kita sendiri. Kita pasti punya kekurangan. Maka, akuilah itu dan perbaikilah. Jangan malu untuk mengakui kekurangan diri kita. Kitapun pasti pernah melakukan kesalahan, akuilah itu dan beranilah untuk meminta maaf. Jika seseorang sudah punya penyakit di dalam hatinya untuk tidak mau mengakui kesalahannnya apalagi meminta maaf, maka ini akan fatal akibatnya.

Orang yang tidak mau mengakui kesalahan, apalagi sampai menyalahkan orang lain, maka orang yang demikian adalah pengecut dan munafik. Memiliki kekurangan dan kesalahan itu bukanlah hal yang buruk, adapun yang buruk adalah jika memiliki kekurangan dan kesalahan tapi tidak mau mengakuinya dan tidak mau memperbaiki diri.

Alloh Swt. berfirman, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Alloh? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imron [3] : 135)

Mengakui kekurangan dan kesalahan diri serta meminta maaf atasnya adalah sikap mukmin yang sejati. Sikap yang membuktikan bahwa tidak ada apapun yang ditakuti kecuali Alloh Swt. Sungguh mulia sikap yang demikian dan semoga kita termasuk di dalamnya. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Share this: